Tahap demi tahap dilalui oleh pihak keluarga untuk mencari keadilan untuk David. Para ahli dimintai pendapat terhadap kasus ini sehingga akhrinya terungkaplah fakta-fakta yang menunjukan bahwa David dibunuh, yang tentu saja dibantah keras oleh pemerintah Singapura dan NTU.
Saya rasa fakta bahwa David dibunuh (bukannya membunuh, seperti di awal-awal pemberitaan) sudah diterima sebagai fakta oleh masyarakat. Terbukti dengan revisi dan ralat di media massa terkemuka, seperti Kompas. Tuntutan untuk mencari keadilan pun semakin deras dari dalam negeri.
Beberapa hari yang lalu, saya membaca Kompas seperti keseharian saya biasa. Entah tanggal berapa (saya rasa bisa dicari infonya di google), saya melihat iklan NTU. Melihat iklan NTU, saya pun tidak terkejut karena memang sudah cukup sering muncul di Kompas. Memang saat ini sudah memasuki tahap penerimaan mahasiswa baru sehingga tidak heran jika pihak NTU gencar memasang iklan di koran-koran Ibu Kota. Namun, yang cukup membuat saya kaget, di salah satu edisi iklan tersebut, ada seorang mahasiswa dari Indonesia, bersama dengan orang tuanya memberikan testimonial di iklan tersebut. Bukan sebuah testimonial kecil dengan tanda kutip kecil di ujung bawah iklan. Melainkan justru testimonial dan tulisan "mahasiswa dari Indonesia" lah yang menjadi sentral iklan tersebut.
Awalnya tentu saja saya kaget. Bukankah kasus David belum selesai? Bukankah kasus David pernah dan masih ditutupi sepihak oleh pemerintah Singapura? Kok mahasiswa ini berani sekali, ya? Bahkan sampai foto orangtuanya ikut dipajang! Tidak heran, gerakan kecam mengecam anak ini, yang saya ketahui kemudian sebagai anak smuki, pun mengalir, bahkan sampai ada grup yang khusus mengecam aksi anak ini di FB.
Kesan pertama saya tentu saja heran dan mempertanyakan aksi tersebut. Secara logika, tentu saja iklan ini merupakan propaganda efektif dari NTU untuk menyatakan bahwa di balik kasus David masih ada mahasiswa Indonesia (bahkan anak SMUKI) yang "bahagia" kuliah di sana . Tentunya ini sangat menguntungkan pihak NTU serta menjatuhkan opini umum di publik Indonesia, yang katanya "kecam NTU". Tetapi saya pun berusaha berpikir positif. Mungkin saja anak tersebut mempunyai alasanya sendiri yang entah apa tetapi saya yakin cukup kuat untuk mendorongnya melakukan hal tersebut. Lagipula, terlepas dari kasus David, namanya juga IKLAN, yang tentu saja sah-sah saja memajang gambar ataupun isi apapun selama tidak melanggar hukum.
Salah satu link kecam-mengecam ada di :
http://edukasi.kompasiana.com/2009/12/11/iklan-tanpa-empati-model-teman-sekelas-david-di-smu/
Awal membaca, saya pun cukup setuju dengan penulis. Tetapi semakin saya membaca komentar-komentar yang ada di bawahnya, rasa itu pun lenyap. Digantikan dengan rasa kesal terhadap si penulis yang memang memaksakan kehendaknya sebagai kebenaran yang wajib diikuti semua warga negara Indonesia. Bagi saya, mengecam boleh. Mengajak orang mengecam juga boleh. Tetapi memaksakan kehendak itu tidak boleh. Argumen-argumen yang dilontarkan oleh pihak-pihak di sana yang kontra dengan sang penulis pun masuk akal, perlu, dan patut dipertimbangkan.
Dari tulisan penulis, terlihat bahwa beliau merupakan lulusan ITB. Di dalam komentar-komentar yang ada, dengan jelas beliau membanggakan kualitas ITB yang diklaim sepihak oleh beliau "lebih bagus" daripada NTU. Saya tidak mau menyinggung masalah "mana yang lebih bagus". Tetapi dari segi kesopanan, nalar, dan kemampuan untuk bertoleransi, justru tulisan beliau menunjukan di level mana beliau berada. Bukan bermaksud untuk menggenelarisir, secara logika, sekaligus menunjukan di level mana ITB berada.
Saya yakin para pembaca sekarang ini sudah cukup pintar dan terdidik untuk menilai hal tersebut.
PS:
Perlu diingat bahwa tulisan saya ini bukan untuk menjelekan pihak manapun, baik itu penulis artikel, universitas tertentu, maupun pihak tertentu lainnya. Tulisan ini adalah hasil pemikiran, opini, dan tanggapan seorang Melia atas kejadian yang dilihatnya.
Awal membaca, saya pun cukup setuju dengan penulis. Tetapi semakin saya membaca komentar-komentar yang ada di bawahnya, rasa itu pun lenyap. Digantikan dengan rasa kesal terhadap si penulis yang memang memaksakan kehendaknya sebagai kebenaran yang wajib diikuti semua warga negara Indonesia. Bagi saya, mengecam boleh. Mengajak orang mengecam juga boleh. Tetapi memaksakan kehendak itu tidak boleh. Argumen-argumen yang dilontarkan oleh pihak-pihak di sana yang kontra dengan sang penulis pun masuk akal, perlu, dan patut dipertimbangkan.
Dari tulisan penulis, terlihat bahwa beliau merupakan lulusan ITB. Di dalam komentar-komentar yang ada, dengan jelas beliau membanggakan kualitas ITB yang diklaim sepihak oleh beliau "lebih bagus" daripada NTU. Saya tidak mau menyinggung masalah "mana yang lebih bagus". Tetapi dari segi kesopanan, nalar, dan kemampuan untuk bertoleransi, justru tulisan beliau menunjukan di level mana beliau berada. Bukan bermaksud untuk menggenelarisir, secara logika, sekaligus menunjukan di level mana ITB berada.
Saya yakin para pembaca sekarang ini sudah cukup pintar dan terdidik untuk menilai hal tersebut.
PS:
Perlu diingat bahwa tulisan saya ini bukan untuk menjelekan pihak manapun, baik itu penulis artikel, universitas tertentu, maupun pihak tertentu lainnya. Tulisan ini adalah hasil pemikiran, opini, dan tanggapan seorang Melia atas kejadian yang dilihatnya.





